Kisah tak nyata yang di ekstrak dari kisah nyata

on Jumat, 07 Desember 2012

6 Des 2112

Gerimis senja selepas maghrib di jalanan menuju Klantopia. Berbahaya memang berkendara sembari merenung , melamunkan apa apa yang keluar dari mulutku sore tadi. Seolah terhipnotis tapi dalam keadaan sadar, entah apa yang ada dalam kepalaku tadi. Betapa bodohnya menceritakan masalah keluarga pada orang asing yang baru kukenal, orang aneh yang berbahaya. Hanya sesosok  bocah tampaknya, bocah dengan pemikiran yang tajam setajam pandanganya. Terlalu tajam hingga siapapun yang menatap matanya akan salah tingkah dibuatnya. Tapi entah kenapa cerita itu mengalir begitu saja dengan terbuka, sertamerta kutinggalkan rasa malu ku jauh dibelakang. Tak kupedulikan lagi pendapatnya tentang ku, biarlah dia berkata apa, toh dia juga bukan apa-apaku meskipun dia juga akhirnya tak berpendapat apapun yang berarti.

Pandangan tajamnya terlalu abstrak untuk ku mengerti. Kritis tapi sulit ditebak. Mirip dengan seseorang yang dekat dengan ku , tapi bukan. Yang jelas sore itu dia telah tau semuanya, mungkin dia juga tahu senyum dan tawa palsu ku saat mata ku berkaca-kaca membawakan cerita. Senyum dan tawa palsu yang sudah sejak lama kubangun dengan susah payah hingga tegak berdiri dengan kokoh sebuah dinding pelipur lara, sebuah sikap yang ampuh dalam menghadapi masa-masa kelam itu. Diramu dengan sempurna berwujud karakter “cuek” dan “tomboi”, mungkin sedikit liar, tapi tidak terlalu liar untuk sulit dikendalikan.  Beruntung aku tidak jatuh terlalu dalam kejurang frustasi layaknya pendahuluku, yang tak kuasa menerima takdir dengan beberapa saudara tak seayah dan seibu, apalagi dengan dua ayah dan dua ibu lengkap dengan berbagai konfliknya. Saat itu aku memilih ‘tak memihak’ siapapun diantara mereka dan memilih hidup dalam damai bersama ‘Grandparent’ku, menunggu badai reda dan berharap bisa kembali dengan aroma segar kehidupan keluarga yang harmonis.

Keluarga ku adalah pusakaku. Walaupun saat ini masih tercerai berai menjadi kepingan-kepingan puzzle yang tercecer seolah tak berharga, semua cobaan dan kejadian ini merupakan tempaan untuk menyatukan kepingan itu menjadi sebuah harta yang berharga, halus berkilau tanpa cela. Menciptakan keluarga dengan pribadi-pribadi yang indah nan tangguh dan tahan dihajar badai selanjutnya.


Diberanda masjid Agung kota Yottapolis aku membawakan dongeng itu. Bukan untuk bocah itu, bukan untuk siapapun, tapi untuk diriku sendiri, sebagai bahan renungan untuk pribadiku yang lebih baik dimasa depan. Aku tidak berharap bocah itu punya masalah yang sama denganku, tapi aku berharap dia bisa mengerti dan menjadi pembelajaran berharga untuknya.

Didedikasikan untuk
Sahabat Baruku yang paling Hebat

0 komentar:

Posting Komentar