6 Des 2112
Gerimis senja
selepas maghrib di jalanan menuju Klantopia. Berbahaya memang berkendara
sembari merenung , melamunkan apa apa yang keluar dari mulutku sore tadi. Seolah
terhipnotis tapi dalam keadaan sadar, entah apa yang ada dalam kepalaku tadi.
Betapa bodohnya menceritakan masalah keluarga pada orang asing yang baru
kukenal, orang aneh yang berbahaya. Hanya sesosok bocah tampaknya, bocah dengan pemikiran yang
tajam setajam pandanganya. Terlalu tajam hingga siapapun yang menatap matanya
akan salah tingkah dibuatnya. Tapi entah kenapa cerita itu mengalir begitu saja
dengan terbuka, sertamerta kutinggalkan rasa malu ku jauh dibelakang. Tak
kupedulikan lagi pendapatnya tentang ku, biarlah dia berkata apa, toh dia juga
bukan apa-apaku meskipun dia juga akhirnya tak berpendapat apapun yang berarti.
Pandangan
tajamnya terlalu abstrak untuk ku mengerti. Kritis tapi sulit ditebak. Mirip dengan
seseorang yang dekat dengan ku , tapi bukan. Yang jelas sore itu dia telah tau
semuanya, mungkin dia juga tahu senyum dan tawa palsu ku saat mata ku
berkaca-kaca membawakan cerita. Senyum dan tawa palsu yang sudah sejak lama
kubangun dengan susah payah hingga tegak berdiri dengan kokoh sebuah dinding
pelipur lara, sebuah sikap yang ampuh dalam menghadapi masa-masa kelam itu. Diramu
dengan sempurna berwujud karakter “cuek” dan “tomboi”, mungkin sedikit liar,
tapi tidak terlalu liar untuk sulit dikendalikan. Beruntung aku tidak jatuh terlalu dalam
kejurang frustasi layaknya pendahuluku, yang tak kuasa menerima takdir dengan beberapa
saudara tak seayah dan seibu, apalagi dengan dua ayah dan dua ibu lengkap
dengan berbagai konfliknya. Saat itu aku memilih ‘tak memihak’ siapapun diantara
mereka dan memilih hidup dalam damai bersama ‘Grandparent’ku, menunggu badai
reda dan berharap bisa kembali dengan aroma segar kehidupan keluarga yang
harmonis.
Keluarga ku
adalah pusakaku. Walaupun saat ini masih tercerai berai menjadi
kepingan-kepingan puzzle yang tercecer seolah tak berharga, semua cobaan dan
kejadian ini merupakan tempaan untuk menyatukan kepingan itu menjadi sebuah
harta yang berharga, halus berkilau tanpa cela. Menciptakan keluarga dengan
pribadi-pribadi yang indah nan tangguh dan tahan dihajar badai selanjutnya.
Didedikasikan untuk
Sahabat Baruku yang paling Hebat
Sahabat Baruku yang paling Hebat


0 komentar:
Posting Komentar